BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam adalah agama samawi terakhir
yang dirisalahkan melalui Rasulullah saw.. Karena Islam sebagai agama terakhir
dan juga sebagai penyempurna ajaran-ajaran terdahulu, maka sangat bisa
dipahami, jika Islam merupakan ajaran yang paling komprohensif, Islam sangat
rinci mengatur kehidupan umatnya, melalui kitab suci al-Qur’an. Allah swt.memberikan
petunjuk kepada umat manusia bagaimana menjadi insan kamil atau pemeluk agama
Islam yang kafah atau sempurna.
Secara garis besar ajaran Islam bisa
dikelompokkan dalam dua kategori yaitu Hablum Minallah (hubungan
vertikal antara manusia dengan Tuhan) dan Hablum Minannas (hubungan
manusia dengan manusia).Allah menghendaki kedua hubungan tersebut seimbang
walaupunHablumminannas lebih banyak di tekankan. Namun itu semua
bukan berarti lebih mementingkan urusan kemasyarakatan, namun hal itu tidak lain
karenaHablumminannas lebih komplek dan lebih komprehensif. Oleh
karena itu pada kesempatan ini penulis terdorong untuk memahami ayat-ayat alquran tentang kemasyarakatan
dengan perantara tafsir.Dan penulis ingin memaparkan tafsir dari ayat-ayat
alquran yang berhubungan dengan hal tersebut.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakahistilah masyarakat
menurut Al-Qur’an?
2.
Bagaimanakah menjadi masyarakat yang baik menurut Al-qur’an?
3.
Apakah tujuan dan manfaat masyarakat menurut Al-quran?
C. Tujuan
1.
Untuk mengetahui istilah masyarakat
Menurut Al-Qur’an.
2.
Untuk mengetahui bagaimana
menjadi masyarakat yang baik menurut Al-quran.
3.
Untuk mengetahui tujuan dan
manfaat masyarakat menurut Al-quran.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Masyarakat Menurut
Al-Qur’an
Istilah masayarakat dapat dilihat
dari adanya berbagai istilah lain yang dapat dihubungkan dengan konsep pembinaan masyarakat,seperti istilah ummat,qaum, dan
lain sebagainya. Istilah ummat dapat
dijumpai di banyak surah padaAl-Qur’an
salah satu surah itu ialah surah Al-imran ayat 110 yang berbunyi :
öNçGZä.uöyz>p¨Bé&ôMy_Ì÷zé&Ĩ$¨Y=Ï9tbrâßDù's?Å$rã÷èyJø9$$Î/cöqyg÷Ys?urÇ`tãÌx6ZßJø9$#tbqãZÏB÷sè?ur«!$$Î/3öqs9urÆtB#uäã@÷dr&É=»tGÅ6ø9$#tb%s3s9#ZöyzNßg©94ãNßg÷ZÏiBcqãYÏB÷sßJø9$#ãNèdçsYò2r&urtbqà)Å¡»xÿø9$#ÇÊÊÉÈ
Artinya: “Kamu adalah umat yang
terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan
mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab
beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman,
dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.(QS. Ali Imran : 110)
Kata ummah pada
ayat tersebut, berasal dari kata amma,yaummu yang
berarti jalan dan maksud. Dari asal kata tersebut, dapat diketahui bahwa
masyarakat adalah kumpulan orang yang memiliki keyakinan dan tujuan yang sama,
menghimpun diri secara harmonis dengan maksud dan tujuan bersama.
Selanjutnya, dalam Al-Mufradat fi
Gharib Al-Qur’an, masyarakat diartikan sebagai semua kelompok yang dihimpun
oleh persamaan agama, waktu, tempat baik secara terpaksa maupun kehendak
sendiri.Inti dari pendapat- pendapat tersebut, adalah bahwa masyarakat tempat
berkumpulnya manusia yang didalamnya terdapat sistem hubungan, aturan serta
pola- pola hubungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.[1]
B.
Tafsir Ayat-ayat Al-Qur’an yang Membicarakan Tentang
Masyarakat
1. Surat Al-Hujurat Ayat 10-13:
1. Surat Al-Hujurat Ayat 10-13:
Artinya :“(10).
Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara
kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”
Artinya :“(11). Hai
orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain
(karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang
mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain
(karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari
wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan
janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk
panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak
bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
Artimya : “(12). Hai
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya
sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan
orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.
Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah
mati?Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.Dan bertakwalah kepada
Allah.Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
Artinya : “(13). Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan
kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal
mengenal.Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah
ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
4. Arti kata Mufradat
يَسْخَرْ : Mengolok- olok
تَلْمِزُوْالَا : Janganlah kalian
mencela
بَزُوْا تَنَالَا :Janganlah
kalian
saling memanggil
بِاْلاَلْقَابِ : Dengan gelar – gelar yang buruk
لَاتَجَسَّسُوْا : Janganlah kalian
mencari-cari kesalahan
لَايَغْتَبْ : Janganlah menggunjing
كَرِهْتُمُوْهُ : Kalian merasa jijik kepadanya
5.
Makna Ijmali.
a. Makna Ijmali Ayat 10
Dalam ayat 10 allah swt.memberikan
bimbingan dan menerangkan bahwa perdamaian itu sebagaimana wajib dilakukan antara dua kelompok,maka
wajib pula antara dua orang yang bersaudara.sesudah itu,allah menyuruh orang
orang mu’min supaya merendahkan diri di hadapan-Nya,dengan harapan agar allah
merahmati mereka apabila mereka mematuhi Allah dan tidak melanggar perintahnya.[2]
b. Makna Ijmali Ayat 11
Setelah allah swt.menyebutkan apa
yang patut dilakukan oleh seorang mu’min terhadap allah swt maupun terhadap nabi
saw.dan terhadap orang yang tidak mematuhi allah dan nabi-nya serta bermaksiat
kepadanya,yaitu orang yang fasik,maka allah menerangkan pula apa yang patut
dilakukan oleh seorang mu’min terhadap mu’min yang lainnya.allah menyebutkan
pula menyebutkan bahwa tidak sepattutnya seorang mu’min mengolok-olok orang
mu’min lainnya atau mengejeknya dengan celaan atau hinaan,dan tidak patut pula
memberinya gelar yang menyakitkan hati.alangkah buruknya perbuatan tersebut.
Dan barang siapa yang tidak
bertaubat setelah ia melakukan perbuatan seperti itu,maka ia berbuat buruk
terhadap dirinya sendiri dan melakukan dosa besar.
Diriwayatkan,bahwa ayat ini turun
mengenai delegasi dari tamim,mereka mengejek orang‑orang fakir dari sahabat nabi saw.seperti ammar,shuhaib,bilal,khabab,salman
alfarisi dan salim,bekas budak abu hudzaifah di hadapan orang orang
lain.sebab,mereka melihat orang-orang itu keadaanya compang camping.
Dan ada pula yang meriwayatkan bahwa
ayat ini turun mengenai shafiyah binti huyai bin akhtab ra.dia dating kepada
rasulallah saw.lalu berkata:sesungguhnya kaum wanita itu berkata kepadaku:hai
wanita yahudi,anak perempuan orang yahudi.maka rasulallah saw.berkata
kepadanya:tidakkah kau katakan ayahku,harun,dan pamanku,musa dan suamiku
Muhammad.[3]
c.
Makna Ijmali Ayat 12.[4]
Allah swt.mendidik hamba-hamba-Nya
yang mu’min dengan kesopanan-kesopanan,yang jika mereka pegang teguh,maka akan
menumbuhkan rasa cinta dan persatuan diantara mereka.diantarnya kesopanan yang
tersebut sebelum ayat ini,dan diantaranya lagi yang allah sebutkan disini,yaitu
perkara perkara besar yang menambah kuatnya hubungan dalam masyarakat
islam.yaitu:
1)
menghindari prasangka yang buruk terhadap sesama manusia dan
menuduh mereka berkhianat pada apapun yang mereka ucapkan dan yang mereka lakukan.karena
sebagian dari buruk sangka dan tuduhan tersebut semata mata dosa,maka hendaklah
kita banyak mengindari hal yang seperti ini.
Ada sebuah riwayat yang di
riwayatkan oleh umar ra.bahwa ia berkata:janganlah sekali kali kamu menyangka
suatu perkataan yang keluar dari saudaramu yang mu’min kecuali sebagai sesuatu
yang baik.karena,kamu masih mendapatkan tempat yang baik untuk kata-kata itu.
2)
Jangan mencari-cari keburukan dan aib orang lain.
3)
Jangan sebagian mereka menyebut sebagian yang lain dengan
hal-hal yang mereka tidak sukai tanpa sepengetahuan mereka.syari’telah
mengumpamakan orang yang melakukan ghibah(penggunjing) sebagai orang yang
memakan daging bangkai saudaranya karena kejinya perbuatan itu.
Menurut tafsiran qatadah:sebagiamana
kamu tidak suka memakan mayat yang terhantar sekiranya kamu mendapatkannya,maka
demikian pula janganlah kamu suka memakan daging saudaramu itu selagi ia masih
hidup.
c. Makna Ijmali Ayat 13
Setelah allah swt.melarang pada
ayat-ayat lalu mengolok-olok sesama manusia dan menghina dan memanggil dengan
panggilan dan gelar-gelar yang buruk,maka disini allah menyebutkan ayat yang
lebih menegaskan lagi larangan tersebut dan memperkuat cegahan tersebut.allah
menerangkan bahwa manusia seluruhnya berasal dari seorang ayah dan ibu,maka
kenapakah saling mengolok-olok sesama saudara.hanya saja allah menjadikan
mereka bersuku-suku dan berkabilah-kabilah yang berbeda-beda,agar diantara
mereka terjadi saling kenal dan tolong-menolong dalam kemaslahata-kemaslahatan
mereka yang bermacam-macam.
Namun tetap tidak ada kelebihan bagi
seorang atas yang lain kecuali dengan takwa dan kesalehan,di samping ke
sempurnaan jiwa,bukan dengan hal-hal yang bersifat keduniaan yang tiada abadi.
Abu Daud menyebutkan bahwa ayat ini
turun mengenai Abu Hindin,ia adalah seorang pecanduk nabi saw.katanya,bahwa
rasulullah saw.menyuruh baani syahdah agar mengawinkan abu hindin dengan
seorang wanita dari mereka.maka mereka berkata kepada rasulullah saw: apakah
kami harus mengawinkan anak-anakperempuan kami dengan bekas budak-budak
kami.maka Allah azza wa jalla menurunkan ayat ini.[5]
4. AsbabunNuzul
a.
Ayat 12
Dari ibnu juraij bahwa ayat ini
turun berkenaan dengan Salman Al-Farisi yang bila selesai makan, suka terus
tidur dan mendengkur. Pada waktu itu ada orang yang mempergunjingkan
perbuatannya, maka turunlah ayat ini yang melarang seoorang mengumpat dan
menceritakan keaiban orang lai (HR.Ibnuu Al-Mundzir)
b.
Ayat 13
Dari Ibnu Abi Malaikah bahwa
penaklukan kota Mekkah, Bilal naik keatas ka’bah uuntuk mengumandangkan azan.
Beberapa orang berkata, “apakah pantas buudak hitam ini azan diiatas ka’bah?”.
Maka yang lain berkata, “sekiiranya Allah membenci orang ini pasti dia akan
menggantikannya.”.ayat ini turun sebagai penegasan bahwa dalam islam tidak ada
diskriminasi yang paliing muliia adalahh yang paliing bertakwa.(H.R.Ibnu Abi
Hatim)
5. Tafsir al-Ayat
a. Tafsir Ayat 10[6]
$yJ¯RÎ)tbqãZÏB÷sßJø9$#×ouq÷zÎ)
“Sesunguhnya orang mukmin itu
bersaudara”.
Menurut sebuah hadits ; orang islam
yang satu adalah saudara orang islam yang lain. Dia tidak boleh menganiayah atau
menghinah atau merendahkan atau saling mengunguli dengannya dalam membuat
gedung-gedung,sehingah dia menutupi angin terhadapnya kecuali dengan ijin Nya
atau menyakiti hatinya dengan tak sudi memberikan hasil pancinya kecuali
menciduk untuknya satu cidukan, dan jangan membeli buah-buahan tersebut menuju
anak-anak tetangga sedang anak itu tidak berbagi memakan buah-buahan tersebut
dengan kawan-kawanya.
Kemudian sabdanya pula ; peliharalah
oleh kalian namun hanya sedikit saja yang mau memilihara.
Sedangkan menurut hadits sahih yang
lain juga dikatakan apabila seorang muslim mendoakan saudaranya diluar
pengetahuan maka berdoa malaikat ; semoga doamu dikabulkan dan kamupun
mendapatkan yang seperti itu.
(#qßsÎ=ô¹r'sùtû÷üt/ö/ä3÷uqyzr&
“Karena itu damaikanlah diantara kedua saudaramu”
4(#qà)¨?$#ur©!$#
Dan bertaqwalah kamu kepada Allah dalam segala hal yang kamu
lakukan maupun yang kamu tingalkan yang diantarnya adalah memperbaiki hubungan
diantar sesama kamu yang kamu disuruh melaksanakannya.
÷/ä3ª=yès9tbqçHxqöè?
Mudah-mudahan Tuhanmu memberi rahmat kepadamu dan memaafkan
dosa-dosamu yang telah lalu apabila kamu mematuhi dia dan mengikuti perintah
dan larangan.
b. Tafsir Ayat 11-12.
Dalam ayat
ini Allah menjelaskan adab-adab (pekerti) yang harus berlaku diantara sesama
mukmin, dan juga menjelaskan beberapa fakta yang menambah kukuhnya persatuan
umat Islam, yaitu:
1)
Menjauhkan diri dari berburuk sangka kepada yang lain.
2)
Menahan diri dari memata-matai keaiban orang lain.
3)
Menahan diri dari mencela dan menggunjing orang lain.
Dan dalam ayat ini juga, Allah
menerangkan bahwa semua manusia dari satu keturunan, maka kita tidak selayaknya
menghina saudaranya sendiri. Dan Allah juga menjelaskan bahwa dengan Allah
menjadikan kita berbangsa-bangsa, bersuku-suku dan bergolong-golong tidak lain
adalah agar kita saling kenal dan saling menolong sesamanya. Karena ketaqwaan,
kesalehan dan kesempurnaan jiwa itulah bahan-bahan kelebihan seseorang atas
yang lain.