Senin, 16 Mei 2016

tafsir masyarakat




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Islam adalah agama samawi terakhir yang dirisalahkan melalui Rasulullah saw.. Karena Islam sebagai agama terakhir dan juga sebagai penyempurna ajaran-ajaran terdahulu, maka sangat bisa dipahami, jika Islam merupakan ajaran yang paling komprohensif, Islam sangat rinci mengatur kehidupan umatnya, melalui kitab suci al-Qur’an. Allah swt.memberikan petunjuk kepada umat manusia bagaimana menjadi insan kamil atau pemeluk agama Islam yang kafah atau sempurna.
Secara garis besar ajaran Islam bisa dikelompokkan dalam dua kategori yaitu Hablum Minallah (hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan) dan Hablum Minannas (hubungan manusia dengan manusia).Allah menghendaki kedua hubungan tersebut seimbang walaupunHablumminannas lebih banyak di tekankan. Namun itu semua bukan berarti lebih mementingkan urusan kemasyarakatan, namun hal itu tidak lain karenaHablumminannas lebih komplek dan lebih komprehensif. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis terdorong untuk memahami  ayat-ayat alquran tentang kemasyarakatan dengan perantara tafsir.Dan penulis ingin memaparkan tafsir dari ayat-ayat alquran yang berhubungan dengan hal tersebut.

B. Rumusan  Masalah
1.      Bagaimanakahistilah  masyarakat menurut Al-Qur’an?
2.      Bagaimanakah menjadi masyarakat yang baik menurut Al-qur’an?
3.      Apakah tujuan dan manfaat masyarakat menurut Al-quran?
C. Tujuan
1.      Untuk mengetahui istilah masyarakat Menurut Al-Qur’an.
2.      Untuk mengetahui  bagaimana  menjadi masyarakat yang baik menurut Al-quran.
3.      Untuk mengetahui tujuan dan manfaat masyarakat menurut Al-quran.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Masyarakat Menurut Al-Qur’an
Istilah masayarakat dapat dilihat dari adanya berbagai istilah lain yang dapat dihubungkan dengan konsep pembinaan masyarakat,seperti istilah ummat,qaum, dan lain sebagainya. Istilah ummat dapat dijumpai di banyak surah  padaAl-Qur’an salah satu surah itu ialah surah Al-imran ayat 110 yang berbunyi :
öNçGZä.uŽöyz>p¨Bé&ôMy_̍÷zé&Ĩ$¨Y=Ï9tbrâßDù's?Å$rã÷èyJø9$$Î/šcöqyg÷Ys?urÇ`tã̍x6ZßJø9$#tbqãZÏB÷sè?ur«!$$Î/3öqs9uršÆtB#uäã@÷dr&É=»tGÅ6ø9$#tb%s3s9#ZŽöyzNßg©94ãNßg÷ZÏiBšcqãYÏB÷sßJø9$#ãNèdçŽsYò2r&urtbqà)Å¡»xÿø9$#ÇÊÊÉÈ

Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.(QS. Ali Imran : 110)
Kata ummah pada ayat tersebut, berasal dari kata amma,yaummu yang berarti jalan dan maksud. Dari asal kata tersebut, dapat diketahui bahwa masyarakat adalah kumpulan orang yang memiliki keyakinan dan tujuan yang sama, menghimpun diri secara harmonis dengan maksud dan tujuan bersama.
Selanjutnya, dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur’an, masyarakat diartikan sebagai semua kelompok yang dihimpun oleh persamaan agama, waktu, tempat baik secara terpaksa maupun kehendak sendiri.Inti dari pendapat- pendapat tersebut, adalah bahwa masyarakat tempat berkumpulnya manusia yang didalamnya terdapat sistem hubungan, aturan serta pola- pola hubungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.[1]

B.     Tafsir Ayat-ayat Al-Qur’an yang Membicarakan Tentang Masyarakat
1. Surat Al-Hujurat Ayat 10-13:

Artinya :“(10). Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”

Artinya :“(11). Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Artimya : “(12). Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.Dan bertakwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.


Artinya : “(13). Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
4.      Arti kata Mufradat                             

يَسْخَرْ  : Mengolok- olok
تَلْمِزُوْالَا         : Janganlah kalian
mencela                      
بَزُوْا  تَنَالَا        :Janganlah kalian
saling memanggil       
بِاْلاَلْقَابِ         : Dengan gelar – gelar yang buruk
لَاتَجَسَّسُوْا       : Janganlah kalian
mencari-cari kesalahan
لَايَغْتَبْ          : Janganlah menggunjing
كَرِهْتُمُوْهُ        : Kalian merasa jijik kepadanya       
           


5.      Makna Ijmali.
a.       Makna Ijmali Ayat 10
Dalam ayat 10 allah swt.memberikan bimbingan dan menerangkan bahwa perdamaian itu sebagaimana  wajib dilakukan antara dua kelompok,maka wajib pula antara dua orang yang bersaudara.sesudah itu,allah menyuruh orang orang mu’min supaya merendahkan diri di hadapan-Nya,dengan harapan agar allah merahmati mereka apabila mereka mematuhi Allah dan tidak melanggar perintahnya.[2]
b.      Makna Ijmali Ayat 11
Setelah allah swt.menyebutkan apa yang patut dilakukan oleh seorang mu’min terhadap allah swt maupun terhadap nabi saw.dan terhadap orang yang tidak mematuhi allah dan nabi-nya serta bermaksiat kepadanya,yaitu orang yang fasik,maka allah menerangkan pula apa yang patut dilakukan oleh seorang mu’min terhadap mu’min yang lainnya.allah menyebutkan pula menyebutkan bahwa tidak sepattutnya seorang mu’min mengolok-olok orang mu’min lainnya atau mengejeknya dengan celaan atau hinaan,dan tidak patut pula memberinya gelar yang menyakitkan hati.alangkah buruknya perbuatan tersebut.
Dan barang siapa yang tidak bertaubat setelah ia melakukan perbuatan seperti itu,maka ia berbuat buruk terhadap dirinya sendiri dan melakukan dosa besar.
Diriwayatkan,bahwa ayat ini turun mengenai delegasi dari tamim,mereka mengejek orang‑orang fakir dari sahabat nabi saw.seperti ammar,shuhaib,bilal,khabab,salman alfarisi dan salim,bekas budak abu hudzaifah di hadapan orang orang lain.sebab,mereka melihat orang-orang itu keadaanya compang camping.
Dan ada pula yang meriwayatkan bahwa ayat ini turun mengenai shafiyah binti huyai bin akhtab ra.dia dating kepada rasulallah saw.lalu berkata:sesungguhnya kaum wanita itu berkata kepadaku:hai wanita yahudi,anak perempuan orang yahudi.maka rasulallah saw.berkata kepadanya:tidakkah kau katakan ayahku,harun,dan pamanku,musa dan suamiku Muhammad.[3]
c.   Makna Ijmali Ayat 12.[4]
Allah swt.mendidik hamba-hamba-Nya yang mu’min dengan kesopanan-kesopanan,yang jika mereka pegang teguh,maka akan menumbuhkan rasa cinta dan persatuan diantara mereka.diantarnya kesopanan yang tersebut sebelum ayat ini,dan diantaranya lagi yang allah sebutkan disini,yaitu perkara perkara besar yang menambah kuatnya hubungan dalam masyarakat islam.yaitu:
1)      menghindari prasangka yang buruk terhadap sesama manusia dan menuduh mereka berkhianat pada apapun yang mereka ucapkan dan yang mereka lakukan.karena sebagian dari buruk sangka dan tuduhan tersebut semata mata dosa,maka hendaklah kita banyak mengindari hal yang seperti ini.
Ada sebuah riwayat yang di riwayatkan oleh umar ra.bahwa ia berkata:janganlah sekali kali kamu menyangka suatu perkataan yang keluar dari saudaramu yang mu’min kecuali sebagai sesuatu yang baik.karena,kamu masih mendapatkan tempat yang baik untuk kata-kata itu.
2)      Jangan mencari-cari keburukan dan aib orang lain.
3)      Jangan sebagian mereka menyebut sebagian yang lain dengan hal-hal yang mereka tidak sukai tanpa sepengetahuan mereka.syari’telah mengumpamakan orang yang melakukan ghibah(penggunjing) sebagai orang yang memakan daging bangkai saudaranya karena kejinya perbuatan itu.
Menurut tafsiran qatadah:sebagiamana kamu tidak suka memakan mayat yang terhantar sekiranya kamu mendapatkannya,maka demikian pula janganlah kamu suka memakan daging saudaramu itu selagi ia masih hidup.
c.       Makna Ijmali Ayat 13
Setelah allah swt.melarang pada ayat-ayat lalu mengolok-olok sesama manusia dan menghina dan memanggil dengan panggilan dan gelar-gelar yang buruk,maka disini allah menyebutkan ayat yang lebih menegaskan lagi larangan tersebut dan memperkuat cegahan tersebut.allah menerangkan bahwa manusia seluruhnya berasal dari seorang ayah dan ibu,maka kenapakah saling mengolok-olok sesama saudara.hanya saja allah menjadikan mereka bersuku-suku dan berkabilah-kabilah yang berbeda-beda,agar diantara mereka terjadi saling kenal dan tolong-menolong dalam kemaslahata-kemaslahatan mereka yang bermacam-macam.
Namun tetap tidak ada kelebihan bagi seorang atas yang lain kecuali dengan takwa dan kesalehan,di samping ke sempurnaan jiwa,bukan dengan hal-hal yang bersifat keduniaan yang tiada abadi.
Abu Daud menyebutkan bahwa ayat ini turun mengenai Abu Hindin,ia adalah seorang pecanduk nabi saw.katanya,bahwa rasulullah saw.menyuruh baani syahdah agar mengawinkan abu hindin dengan seorang wanita dari mereka.maka mereka berkata kepada rasulullah saw: apakah kami harus mengawinkan anak-anakperempuan kami dengan bekas budak-budak kami.maka Allah azza wa jalla menurunkan ayat ini.[5]
4. AsbabunNuzul
a.       Ayat 12
Dari ibnu juraij bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Salman Al-Farisi yang bila selesai makan, suka terus tidur dan mendengkur. Pada waktu itu ada orang yang mempergunjingkan perbuatannya, maka turunlah ayat ini yang melarang seoorang mengumpat dan menceritakan keaiban orang lai (HR.Ibnuu Al-Mundzir)


b.      Ayat 13
Dari Ibnu Abi Malaikah bahwa penaklukan kota Mekkah, Bilal naik keatas ka’bah uuntuk mengumandangkan azan. Beberapa orang berkata, “apakah pantas buudak hitam ini azan diiatas ka’bah?”. Maka yang lain berkata, “sekiiranya Allah membenci orang ini pasti dia akan menggantikannya.”.ayat ini turun sebagai penegasan bahwa dalam islam tidak ada diskriminasi yang paliing muliia adalahh yang paliing bertakwa.(H.R.Ibnu Abi Hatim)

5. Tafsir al-Ayat
a. Tafsir Ayat  10[6]
$yJ¯RÎ)tbqãZÏB÷sßJø9$#×ouq÷zÎ)
“Sesunguhnya orang mukmin itu bersaudara”.
Menurut sebuah hadits ; orang islam yang satu adalah saudara orang islam yang lain. Dia tidak boleh menganiayah atau menghinah atau merendahkan atau saling mengunguli dengannya dalam membuat gedung-gedung,sehingah dia menutupi angin terhadapnya kecuali dengan ijin Nya atau menyakiti hatinya dengan tak sudi memberikan hasil pancinya kecuali menciduk untuknya satu cidukan, dan jangan membeli buah-buahan tersebut menuju anak-anak tetangga sedang anak itu tidak berbagi memakan buah-buahan tersebut dengan kawan-kawanya.
Kemudian sabdanya pula ; peliharalah oleh kalian namun hanya sedikit saja yang mau memilihara.
Sedangkan menurut hadits sahih yang lain juga dikatakan apabila seorang muslim mendoakan saudaranya diluar pengetahuan maka berdoa malaikat ; semoga doamu dikabulkan dan kamupun mendapatkan yang seperti itu.
(#qßsÎ=ô¹r'sùtû÷üt/ö/ä3÷ƒuqyzr&

“Karena itu damaikanlah diantara kedua saudaramu”
4(#qà)¨?$#ur©!$#
Dan bertaqwalah kamu kepada Allah dalam segala hal yang kamu lakukan maupun yang kamu tingalkan yang diantarnya adalah memperbaiki hubungan diantar sesama kamu yang kamu disuruh melaksanakannya.
÷/ä3ª=yès9tbqçHxqöè?
Mudah-mudahan Tuhanmu memberi rahmat kepadamu dan memaafkan dosa-dosamu yang telah lalu apabila kamu mematuhi dia dan mengikuti perintah dan larangan.
                                                                                  
   b. Tafsir Ayat 11-12.
            Dalam ayat ini Allah menjelaskan adab-adab (pekerti) yang harus berlaku diantara sesama mukmin, dan juga menjelaskan beberapa fakta yang menambah kukuhnya persatuan umat Islam, yaitu: 
1)      Menjauhkan diri dari berburuk sangka kepada yang lain.
2)      Menahan diri dari memata-matai keaiban orang lain.
3)      Menahan diri dari mencela dan menggunjing orang lain.
Dan dalam ayat ini juga, Allah menerangkan bahwa semua manusia dari satu keturunan, maka kita tidak selayaknya menghina saudaranya sendiri. Dan Allah juga menjelaskan bahwa dengan Allah menjadikan kita berbangsa-bangsa, bersuku-suku dan bergolong-golong tidak lain adalah agar kita saling kenal dan saling menolong sesamanya. Karena ketaqwaan, kesalehan dan kesempurnaan jiwa itulah bahan-bahan kelebihan seseorang atas yang lain.

            $pkšr'¯»tƒtûïÏ%©!$#(#qãZtB#uäŸwöyó¡o×Pöqs%`ÏiBBQöqs%Ÿ
“Kita tidak boleh saling menghina terhadap sesama”
Ayat ini jadikan oleh Allah sebagai peringatan dan nasehat agar kita bersopan santun dalam pergaulan hidup kaum yang beriman. Dengan hal ini berarti Allah melarang kita untuk mengolok-olok dan menghina orang lain, baik dengan cara membeberkan keaiban, dengan mengejek ataupun menghina dengan ucapan / isyarat, karena hal ini dapat menimbulkan kesalah-pahaman diantara kita.
#Ó|¤tãbr&(#qçRqä3tƒ#ZŽöyzöNåk÷]ÏiBŸ
Allah swt.melarang kita menghina sesamanya karena boleh jadi orang yang dihina itu lebih baik dan lebih mulia disisi Allah kedudukannya dari pada yang menghina.
ŸwurÖä!$|¡ÎS`ÏiB>ä!$|¡ÎpS#Ó|¤tãbr&£`ä3tƒ#ZŽöyz£`åk÷]ÏiB
Orang yang kerjanya hanya mencari kesalahan dan kekhilafan orang lain, niscaya lupa akan kesalahan dan kekhilafan yang ada pada dirinya sendiri. Sebagaimana dalam sabda Nabi saw. :
الكِبْرُ بَطْرُالْحَقِّ وَغَمْصُ النَاسِ
“Kesombongan itu ialah menolak kebenaran dan memandang rendah manusia”.

wur(#ÿrâÏJù=s?ö/ä3|¡àÿRr&
Dalam penggalan ayat ini Allah melarang kita mencela orang lain karena mencela orang lain sama saja mencela diri sendiri, karena orang-orang mukmin itu bagaikan satu badan. firman Allah swt.yang menerangkan tentang balasan bagi orang yang suka mencela orang lain yaitu :                                                      
×@÷ƒurÈe@à6Ïj9;otyJèd>otyJ9
“Neraka wailun hanya buat orang yang suka mencedera orang dan mencela orang”. (al-Humazah: 1)
Adapun dari arti هُمَزَةٍ yaitu mencedera, yakni memukul dengan tangan, sedangkan لُمَزَةٍ yaitu mencela dengan mulut.[7]
Ÿwur(#rât/$uZs?É=»s)ø9F{$$Î/
Allah swt.melarang kita memanggil orang lain dengan gelaran-gelaran yang mengandung ejekan-ejekan, karena hal ini termasuk menjelekkan seseorang dengan sesuatu yang telah diperbuatnya. Sedangkan orang yang dihina itu telah bertaubat, tapi jika gelaran (panggilan) itu mengandung pujian dan tepat pemakaiannya, maka itu tidak di benci sebagaimana gelar yang diberikan kepada Umar, yaitu:Al-Faruq.
}§ø©Î/ãLôœew$#ä-qÝ¡àÿø9$#y÷èt/Ç`»yJƒM}$#
Allah melarang kita memanggil orang dengan kata “fasik” setelah ia sebulan masuk Islam atau beriman.
Para ulama’ mengharamkan kita memanggil seseorang dengan sebutan yang tidak di sukai.
`tBuröN©9ó=çGtƒy7Í´¯»s9'ré'sùãNèdtbqçHÍ>»©à9$#
Ayat ini di turunkan mengenai “Shafiyah binti Hisyam Ibn Akhtab”, Beliau datang mengadu kepada Rasul bahwa isteri Rasul yang lain mengatakan kepadanya. Hai orang Yahudi, hai anak dari orang Yahudi, mendengar itu, Rasul berkata: mengapa kamu tidak menjawab: Ayahku Harun, pamanku Musa, sedangkan suamiku Muhammad. Dalam ayat ini diterangkan bahwa orang yang sudah mengolok-olok bahkan menghina orang lain tapi tidak bertaubat, maka mereka termasuk orang dzhalim.
$pkšr'¯»tƒtûïÏ%©!$#(#qãZtB#uä(#qç7Ï^tGô_$##ZŽÏWx.z`ÏiBÇd`©à9$#       
Dalam ayat ini Allah swt.melarang bahkan mengharamkan kita purbasangka  atau berfikiran negatif terhadap orang yang secara lahiriyah tampak baik dan memegang amanat, atau kita tidak boleh menfitnah seseorang, karena menfitnah itu bukan saja menyakiti seseorang dari lahirnya saja tapi juga menyakiti bathinnya.[8]
žcÎ)uÙ÷èt/Çd`©à9$#ÒOøOÎ)
Allah melarang kita berburuk sangka terhadap orang lain karena sebagian dari buruk sangka itu dosa.
Prasangka adalah dosa, karena prasangka adalah tuduhan yang tidak beralasan dan bisa memutuskan silaturahmi di antara dua orang yang baik.
Ÿwur(#qÝ¡¡¡pgrB
Allah melarang kita mencari-cari keaiban dan menyelidiki rahasia seseorang, tapi jika kita memata-matai seseorang atau musuh agar tidak terjadi kejahatan, maka itu di perbolehkan.
Ÿwur=tGøótƒNä3àÒ÷è­/$³Ò÷èt/
Allah melarang mencela orang di belakangnya atau menggunjing tentang sesuatu yang tidak di sukainya.
Menurut para ulama’, mencela yang dibenarkan adalah jika bertujuan untuk :
a. Untuk mencari keadilan,
b. Untuk menghilangkan kemungkaran,
c. Untuk meminta fatwa atau mencari kebenaran,
d. Untuk mencegah manusia berbuat salah,
e. Untuk membeberkan orang yang tidak malu-malu melakukan kemaksiatan.
=Ïtär&óOà2ßtnr&br&Ÿ@à2ù'tƒzNóss9ÏmŠÅzr&$\GøŠtBçnqßJçF÷d̍s3sù
Allah melarang kita membicarakan keburukan seseorang, karena hal itu sama halnya dengan makan bangkai saudaranya yang busuk. Allah melarang hal ini karena perbuatan ini merupakan penghancuran pribadi terhadap saudara yangdicela itu.
(#qà)¨?$#ur©!$#4¨bÎ)©!$#Ò>#§qs?×LìÏm§ÇÊËÈ
Dalam ayat ini Allah menyuruh kita bertaubat dari kesalahan yang telah kita perbuat dengan di sertai penyesalan dan bertaubat (taubat an-nasukha).Dalam ayat ini Allah juga memberitahukan bahwasanya Allah senantiasa membuka pintu kasih sayangnya, membuka pintu selebar-lebarnya dan menerima kedatangan para hambanya yang ingin bertaubat supaya menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt.
c.       Tafsir surah al-Hujurat ayat13
Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan,yakniAdam dan Hawa atau dari sperma  dan ovum,serta menjadikan kamu berbangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal yang mengantar kamu untuk bantu-membantu serta saling melengkapi,sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu ialah yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal sehingga tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya,walau detak-detik jantung dan niat seseorang.
Penggalan pertama ayat di atas sesungguhnya kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan adalah pengantar untuk menegaskan bahwa kita semua umat manusia derajat kemanusiannya sama disisi Allah,tidak ada perbedaan nilai laki-laki dan perempuan. Pengantar tersebut mengantar pada kesimpulan yang disebut oleh penggalan terakhir ayat ini yaitu “sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah yang paling bertakwa.”Karena itu berusahalah untuk meningkatkan ketakwaan agar menjadi yang termulia di sisi Allah.
Kata Syu’ub adalah bentuk jamak dari kata sya’b.kata ini digunakan untuk menunjukkan kumpulan kata dari sekian qabillah yang biasa diterjemahkan suku yang merujuk pada satu kakek.
Kata ta’aruf terambil dari kata arafah yang berarti mengenal.Kata yang digunakan ayat ini mengandung makna timbal balik. Dengan demikian ia berarti saling mengenal.
Kata akramakum terambil dari kata karuma yang pada dasarnya berarti yang baik dan istemewa sesuai objeknya.manusia yang baik dan istimewa adalah yang memiliki akhlak baik terhadap allah dan mahluknya.
Penutup ayat di atas inna allah alim(un) khabir/sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal,yakni menggabung dua sifat allah yang bermakna mirip itu,hanya di temukan tiga dalam Al-Quran.[9]

2. Surat Ar Ra’d:11
¼çms9×M»t7Ée)yèãB.`ÏiBÈû÷üt/Ïm÷ƒytƒô`ÏBur¾ÏmÏÿù=yz¼çmtRqÝàxÿøtsô`ÏB̍øBr&«!$#3žcÎ)©!$#ŸwçŽÉitóãƒ$tBBQöqs)Î/4Ó®Lym(#rçŽÉitóãƒ$tBöNÍkŦàÿRr'Î/3!#sŒÎ)uryŠ#ur&ª!$#5Qöqs)Î/#[äþqߟxsù¨ŠttB¼çms94$tBurOßgs9`ÏiB¾ÏmÏRrߊ`ÏB@A#urÇÊÊÈ
Artinya : “11. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”(Q.S. ar-Ra’d : 11)
a.       Arti Kata Mufradat
Menjaganya : يَحْفَظُوْنَهُ
ô`ÏB̍øBr&«!$#3                              :hallA hatnirep satA                      

.`ÏiBÈû÷üt/Ïm÷ƒytƒô`ÏBur¾ÏmÏÿù=yz           di hadapanya dan di belakangnya : 
b.      Tafsir Surah  Ar-Rad Ayat 11
Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa masing masing ada bagian yang mengikutinya yakni malaikat-malaikat atau mahlukyang selalu mengikutinya secara bergiliran,di hadapanya juga di belakangnya mereka yakni malaikat itu,menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum  dari positif ke negatif atau sebaliknyasehingga mereka mengubah apa yang ada pada dirinya. Dan apabila allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum,tetapi ingat bahwa Dia menghendakinya, kecuali jika manusia mengubah sikapnya terlebih dahulu. Jika Allah menghendakim keburukan terhadap suatu kaum maka terjadilah ketentuan-Nyayang berdasar sunnatullah atau hukum-hukum kemasyarakatan yang ditetapkan-Nya. Bila itu terjadi,maka tak ada yang dapat menolaknya dan pastilah sunnatullah menimpanya:dan sekali-kali taka da pelindung bagi mereka yang jatuh atasnya ketentuan tersebut selain Dia.[10]        
4.      Surah An-Nisaa’ : 1
$pkšr'¯»tƒâ¨$¨Z9$#(#qà)®?$#ãNä3­/uÏ%©!$#/ä3s)n=s{`ÏiB<§øÿ¯R;oyÏnºurt,n=yzur$pk÷]ÏB$ygy_÷ry£]t/ur$uKåk÷]ÏBZw%y`Í#ZŽÏWx.[ä!$|¡ÎSur4(#qà)¨?$#ur©!$#Ï%©!$#tbqä9uä!$|¡s?¾ÏmÎ/tP%tnöF{$#ur4¨bÎ)©!$#tb%x.öNä3øn=tæ$Y6ŠÏ%uÇÊÈ
Artinya : “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”

a.       Arki Kata Mufradat
النَّاسُ   : manusia                 لاَرْحَمَ           : kasih sayang
رَقِيْبًا   : pengawas               بهِ تَسَاءَلٌوْن      : saling meminta satu sama lain

b.      Makna Ijmali
            Wahai umat manusia,bertakwalah kalian kepada tuhan kamu yang menciptakan kamu dari adam: yang memelihara kamu dan yang meliputi kamu dengan kemurahnan dan kedermawanan-Nya.ingatlah oleh kamu,bahwa dia telah menciptakan kamu dari satu jiwa (nabi adam),kemudian menjadikan kamu sebagai suatu jenis mahluk (yaitu manusia) yang kemaslahatan kemaslahatanya bias ditegakkan atas dasar saling menolong dan saling membantu,serta memelihara satu sama lain dalam hal kebenaran.
               Bertakwalah kalian kepada allah yang kalian agungkan,dan kalian saling meminta antar sesama dengan memakai asma dan hak-Nya atas hamba-hambaNya,disamping dengan kekuasaan dan pengaruh yang dimiliki-Nya.ingatlah baik-baik hak-hak silaturahmi atas kalian,jangan sampai kalian menyia-nyiakannya sebab apabila kalian berbuat demikian kalian telah merusak hubungan kekeluargaan dan persaudaraan.
               Oleh karena itu,kalian harus tetap memelihara kedua pengikat tersebut yaitu ikatan iman dan silaturahmi yang kuat .sesungguhnya allah selalu mengawasi kalian.[11]
                                                                          
c.       Tafsir Surah An-Nisa Ayat 1
“Hai sekalian manusia bertakwalah kamu kepada Tuhanmu,yang telah menjadikan kamu dari satu diri seruan Tuhan pada ayat ini tertuju kepada sekalian manusia tidak pandang negeri atau benua, bangsa atau warna kulit. Di peringatkan disini dua hal yaitu yang pertama supaya takwa kepada Allah swt.,kedua supaya mengerti,bahwa sekalian manusia ini,di bagian bumi manapun mereka tinggal,mereka adalah satu belaka.tegasnya,allah adalah satu dan kemanusiaanpun satu!
            “Dan dari padanya dijadikan-Nya isterinya”Yaitu dari diri yang satu itu jugalah di timbulkannya pasangannya,isterinya.
            Baik juga kita ketahui bahwasanya tafsir yang umum sejak dulu,ialah bahwa yang dimaksud jiwa yang satu ialah Adam,yang dari padanya isteri adam yang bernama Hawa.Ibnu Syaibah dan Abd. Bin Humaid,Ibnu Jarir,Ibnu Mundzir,danIbnu Hatim menjelaskan,bahwa mujahid memang menafsirkan bahwa jodohnya dijadikan dari padanya itu ialah hawa,yaitu dari tulang rusuk sebelah kiri yang paling bawah sekali dari Adam.
            “Dia telah menjadikanmu dari satu diri”
            Ialah bahwa seluruh manusia itu baik laki-laki ataupun perempuan dimanapun mereka tinggal dan berada mereka adalah diri yang satu.kemudian setelah itu agar senantiasa terpelihara satu kesatuan diantara mereka maka datanglah lanjutan firman “Bertakwalah kamu kepada Allah yang kamu telah bertanya-tanya tentang( nama)Nya dan( peliharalah) keluargamu.
            Ayat ini telah memberi kesadaranpada manusia,bahwasetelah akal manusia tumbuh dan mereka telah hidup bermasyarakat hendaklah kita selalu ingat kepada allah dan senantiasa bertakwa kepadaNya bukan senantiasa ingkar kepadanya.
            Setelah diperintahkan bertakwa selanjutnya ada yang menjadi pertanyaan sehari-hari tentang kata Arham,Arham adalah jamak dari kata Rahim,yang berarti kasih saying,kemudian disebut dalam keluarga bertalih darah. Tuhan telah mewahyukan kalimat arham untuk mengingatkan kita agar senantiasa sadar akan kesatuan tali keturunan manusia.sedangkan peranakan ibu mengandung anaknya disebut juga Rahim ibu,karena seorang ibu mengandung dalam keadaan kasih-sayang.
            Ayat ini telah memperingatkan lagi bahwa dua hal selalu menjadi buah pertanyaan timbal balik antara manusia.pertama Allah, kedua hubungan keluarga.maka kepada allah hendak kamu bertakwa dan kepada keluargakarena sama keturunan darah manusia dari yang satu,hendaklah kamu berkasih-sayang.
            Dengan merenungkan ayat ini dapatlahnkita memahami dasar damai perikemanusiaan dalam ajaran islam,apabila segenap manusia yang dating dari dari saatu keturunan itu telah sama-sama bertakwa kepada Allah,dengan sendirnya timbullah keamanan jiwa. Apa lagi setelah mereka sadari bahwa mereka itu adalah keluarga besar yang di perlihatkan oleh satu aliran darah dan aliran kasih.
            “Sesungguhnya Allah Pengaawas atas kamu”(ujung ayat 1)
            Dengan demikian dapatlah difahamkan ,meskipun warna kulit berlainan,tempat tinggalpun berbeda tapi ingatlah kamu dipertemukan oleh akal budi.Dan satu pula yang menjadi pengawasmu siang dan malam yaitu Allah.[12]





















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Istilah masyarakat menurut Al’Qur’an dapat dilihat dari adanya berbagai istilah lain yang dapat dihubungkan dengan konsep pembinaan masyarakat,seperti istilah ummatqaum, dan lain sebagainya.Selanjutnya dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur’an, masyarakat diartikan sebagai semua kelompok yang dihimpun oleh persamaan agama.
2.      Menjadi masyarakat yang baik menurut Al-quran antara lain dengan:
a.    menjauhkan diri dari mengolok-olok dan merendahkan orang lain.
b.   menjauhkan diri dari memanggil seseorang dengan gelar-gelar atau sebutan yang buruk.
c.    menjauhakan diri dari berburuk sangka kepada yang lain.
d.   menjauhkan diri dari mematai- matai keaiban orang lain.
e.    menahan diri dari mencela dan menggunjing orang lain.
f. senantiasa memelihara hubungan silaturahim kepada sesama.
3.tujuan dan manfaat masyarakat menurut Al-qur’an antara lain:
a.agar senantiasa bertakwa kepada Allah.
b.   agar saling mengenal satu sama lain.
c. untuk mencegah permusuhan diantara sesama.
d.untuk menciptakan kedamaian,persatuan dan kesatuan dalam 
kehidupan.








DAFTAR PUSTAKA

Al- Maraghi, Ahmad Mustofa.1988. Terjemah tafsir al-Maraghi, juz IVSemarang:Toha putra
Al-Maraghi,Ahmad Mustofa.1989.Terjemah tafsir al-Maraghi,juz XXVI.
Semarang: Toha putra
HAMKA.1983.Tafsir al-Azhar juz IV.Jakarta:Pustaka Panjimas
Shihab, M. Quraish.2002. Tafsir al Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.
http://kampungtafsir.blogspot.co.id/2008/03-konsep-umat-dalam-islam.html
(diunduh hari Jumat,01/04/2016;15:37 WIB)





[1]http://kampungtafsir.blogspot.co.id/2008/03-konsep-umat-dalam-islam.html(diunduh hari jumat,01/04/2016:15:37 WIB)
[2]Ahmad Mushtafa Al-Maraghy,Tafsir Al-Maraghy Juz 26,(Semarang Toha Putra,1986),h.219
[3]Ibid.h.219
[4]Ibid.h.224
[5]Ibid.h.238
[6]Ahmad Mushtafa Al-Maraghy,Tafsir Al-Maraghy Juz 26,(Semarang Toha Putra,1986),h.221-222
[7]HAMKA, Tafsir al-Azhar,(Jakarta:Pustaka Panjimas,1983), h.  236
[8] Ahmad Mushtafa Al-Maraghy,Tafsir Al-Maraghy Juz 26,(Semarang Toha Putra,1986),h.230
[9] M.Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah,(Jakarta:Lentera Hati,2002)h.615-619
[10] M.Quraish Shihab,Tafsir Al-Misbah,(Jakarta:Lentera Hati,2002)h.228
[11] Ahmad Mushtafa Al-Maraghy,Tafsir Al-Maraghy Juz IV,(Semarang Toha Putra,1986),h.315
[12] Hamka,Tafsir Al-Azhar Juz IV,(Jakarta:Pustaka Panjimas,1982) h.216-222 





tafsir kelompok 3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar