BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam adalah agama samawi terakhir
yang dirisalahkan melalui Rasulullah saw.. Karena Islam sebagai agama terakhir
dan juga sebagai penyempurna ajaran-ajaran terdahulu, maka sangat bisa
dipahami, jika Islam merupakan ajaran yang paling komprohensif, Islam sangat
rinci mengatur kehidupan umatnya, melalui kitab suci al-Qur’an. Allah swt.memberikan
petunjuk kepada umat manusia bagaimana menjadi insan kamil atau pemeluk agama
Islam yang kafah atau sempurna.
Secara garis besar ajaran Islam bisa
dikelompokkan dalam dua kategori yaitu Hablum Minallah (hubungan
vertikal antara manusia dengan Tuhan) dan Hablum Minannas (hubungan
manusia dengan manusia).Allah menghendaki kedua hubungan tersebut seimbang
walaupunHablumminannas lebih banyak di tekankan. Namun itu semua
bukan berarti lebih mementingkan urusan kemasyarakatan, namun hal itu tidak lain
karenaHablumminannas lebih komplek dan lebih komprehensif. Oleh
karena itu pada kesempatan ini penulis terdorong untuk memahami ayat-ayat alquran tentang kemasyarakatan
dengan perantara tafsir.Dan penulis ingin memaparkan tafsir dari ayat-ayat
alquran yang berhubungan dengan hal tersebut.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakahistilah masyarakat
menurut Al-Qur’an?
2.
Bagaimanakah menjadi masyarakat yang baik menurut Al-qur’an?
3.
Apakah tujuan dan manfaat masyarakat menurut Al-quran?
C. Tujuan
1.
Untuk mengetahui istilah masyarakat
Menurut Al-Qur’an.
2.
Untuk mengetahui bagaimana
menjadi masyarakat yang baik menurut Al-quran.
3.
Untuk mengetahui tujuan dan
manfaat masyarakat menurut Al-quran.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Masyarakat Menurut
Al-Qur’an
Istilah masayarakat dapat dilihat
dari adanya berbagai istilah lain yang dapat dihubungkan dengan konsep pembinaan masyarakat,seperti istilah ummat,qaum, dan
lain sebagainya. Istilah ummat dapat
dijumpai di banyak surah padaAl-Qur’an
salah satu surah itu ialah surah Al-imran ayat 110 yang berbunyi :
öNçGZä.uöyz>p¨Bé&ôMy_Ì÷zé&Ĩ$¨Y=Ï9tbrâßDù's?Å$rã÷èyJø9$$Î/cöqyg÷Ys?urÇ`tãÌx6ZßJø9$#tbqãZÏB÷sè?ur«!$$Î/3öqs9urÆtB#uäã@÷dr&É=»tGÅ6ø9$#tb%s3s9#ZöyzNßg©94ãNßg÷ZÏiBcqãYÏB÷sßJø9$#ãNèdçsYò2r&urtbqà)Å¡»xÿø9$#ÇÊÊÉÈ
Artinya: “Kamu adalah umat yang
terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan
mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab
beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman,
dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.(QS. Ali Imran : 110)
Kata ummah pada
ayat tersebut, berasal dari kata amma,yaummu yang
berarti jalan dan maksud. Dari asal kata tersebut, dapat diketahui bahwa
masyarakat adalah kumpulan orang yang memiliki keyakinan dan tujuan yang sama,
menghimpun diri secara harmonis dengan maksud dan tujuan bersama.
Selanjutnya, dalam Al-Mufradat fi
Gharib Al-Qur’an, masyarakat diartikan sebagai semua kelompok yang dihimpun
oleh persamaan agama, waktu, tempat baik secara terpaksa maupun kehendak
sendiri.Inti dari pendapat- pendapat tersebut, adalah bahwa masyarakat tempat
berkumpulnya manusia yang didalamnya terdapat sistem hubungan, aturan serta
pola- pola hubungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.[1]
B.
Tafsir Ayat-ayat Al-Qur’an yang Membicarakan Tentang
Masyarakat
1. Surat Al-Hujurat Ayat 10-13:
1. Surat Al-Hujurat Ayat 10-13:
Artinya :“(10).
Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara
kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”
Artinya :“(11). Hai
orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain
(karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang
mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain
(karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari
wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan
janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk
panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak
bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
Artimya : “(12). Hai
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya
sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan
orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.
Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah
mati?Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.Dan bertakwalah kepada
Allah.Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
Artinya : “(13). Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan
kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal
mengenal.Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah
ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
4. Arti kata Mufradat
يَسْخَرْ : Mengolok- olok
تَلْمِزُوْالَا : Janganlah kalian
mencela
بَزُوْا تَنَالَا :Janganlah
kalian
saling memanggil
بِاْلاَلْقَابِ : Dengan gelar – gelar yang buruk
لَاتَجَسَّسُوْا : Janganlah kalian
mencari-cari kesalahan
لَايَغْتَبْ : Janganlah menggunjing
كَرِهْتُمُوْهُ : Kalian merasa jijik kepadanya
5.
Makna Ijmali.
a. Makna Ijmali Ayat 10
Dalam ayat 10 allah swt.memberikan
bimbingan dan menerangkan bahwa perdamaian itu sebagaimana wajib dilakukan antara dua kelompok,maka
wajib pula antara dua orang yang bersaudara.sesudah itu,allah menyuruh orang
orang mu’min supaya merendahkan diri di hadapan-Nya,dengan harapan agar allah
merahmati mereka apabila mereka mematuhi Allah dan tidak melanggar perintahnya.[2]
b. Makna Ijmali Ayat 11
Setelah allah swt.menyebutkan apa
yang patut dilakukan oleh seorang mu’min terhadap allah swt maupun terhadap nabi
saw.dan terhadap orang yang tidak mematuhi allah dan nabi-nya serta bermaksiat
kepadanya,yaitu orang yang fasik,maka allah menerangkan pula apa yang patut
dilakukan oleh seorang mu’min terhadap mu’min yang lainnya.allah menyebutkan
pula menyebutkan bahwa tidak sepattutnya seorang mu’min mengolok-olok orang
mu’min lainnya atau mengejeknya dengan celaan atau hinaan,dan tidak patut pula
memberinya gelar yang menyakitkan hati.alangkah buruknya perbuatan tersebut.
Dan barang siapa yang tidak
bertaubat setelah ia melakukan perbuatan seperti itu,maka ia berbuat buruk
terhadap dirinya sendiri dan melakukan dosa besar.
Diriwayatkan,bahwa ayat ini turun
mengenai delegasi dari tamim,mereka mengejek orang‑orang fakir dari sahabat nabi saw.seperti ammar,shuhaib,bilal,khabab,salman
alfarisi dan salim,bekas budak abu hudzaifah di hadapan orang orang
lain.sebab,mereka melihat orang-orang itu keadaanya compang camping.
Dan ada pula yang meriwayatkan bahwa
ayat ini turun mengenai shafiyah binti huyai bin akhtab ra.dia dating kepada
rasulallah saw.lalu berkata:sesungguhnya kaum wanita itu berkata kepadaku:hai
wanita yahudi,anak perempuan orang yahudi.maka rasulallah saw.berkata
kepadanya:tidakkah kau katakan ayahku,harun,dan pamanku,musa dan suamiku
Muhammad.[3]
c.
Makna Ijmali Ayat 12.[4]
Allah swt.mendidik hamba-hamba-Nya
yang mu’min dengan kesopanan-kesopanan,yang jika mereka pegang teguh,maka akan
menumbuhkan rasa cinta dan persatuan diantara mereka.diantarnya kesopanan yang
tersebut sebelum ayat ini,dan diantaranya lagi yang allah sebutkan disini,yaitu
perkara perkara besar yang menambah kuatnya hubungan dalam masyarakat
islam.yaitu:
1)
menghindari prasangka yang buruk terhadap sesama manusia dan
menuduh mereka berkhianat pada apapun yang mereka ucapkan dan yang mereka lakukan.karena
sebagian dari buruk sangka dan tuduhan tersebut semata mata dosa,maka hendaklah
kita banyak mengindari hal yang seperti ini.
Ada sebuah riwayat yang di
riwayatkan oleh umar ra.bahwa ia berkata:janganlah sekali kali kamu menyangka
suatu perkataan yang keluar dari saudaramu yang mu’min kecuali sebagai sesuatu
yang baik.karena,kamu masih mendapatkan tempat yang baik untuk kata-kata itu.
2)
Jangan mencari-cari keburukan dan aib orang lain.
3)
Jangan sebagian mereka menyebut sebagian yang lain dengan
hal-hal yang mereka tidak sukai tanpa sepengetahuan mereka.syari’telah
mengumpamakan orang yang melakukan ghibah(penggunjing) sebagai orang yang
memakan daging bangkai saudaranya karena kejinya perbuatan itu.
Menurut tafsiran qatadah:sebagiamana
kamu tidak suka memakan mayat yang terhantar sekiranya kamu mendapatkannya,maka
demikian pula janganlah kamu suka memakan daging saudaramu itu selagi ia masih
hidup.
c. Makna Ijmali Ayat 13
Setelah allah swt.melarang pada
ayat-ayat lalu mengolok-olok sesama manusia dan menghina dan memanggil dengan
panggilan dan gelar-gelar yang buruk,maka disini allah menyebutkan ayat yang
lebih menegaskan lagi larangan tersebut dan memperkuat cegahan tersebut.allah
menerangkan bahwa manusia seluruhnya berasal dari seorang ayah dan ibu,maka
kenapakah saling mengolok-olok sesama saudara.hanya saja allah menjadikan
mereka bersuku-suku dan berkabilah-kabilah yang berbeda-beda,agar diantara
mereka terjadi saling kenal dan tolong-menolong dalam kemaslahata-kemaslahatan
mereka yang bermacam-macam.
Namun tetap tidak ada kelebihan bagi
seorang atas yang lain kecuali dengan takwa dan kesalehan,di samping ke
sempurnaan jiwa,bukan dengan hal-hal yang bersifat keduniaan yang tiada abadi.
Abu Daud menyebutkan bahwa ayat ini
turun mengenai Abu Hindin,ia adalah seorang pecanduk nabi saw.katanya,bahwa
rasulullah saw.menyuruh baani syahdah agar mengawinkan abu hindin dengan
seorang wanita dari mereka.maka mereka berkata kepada rasulullah saw: apakah
kami harus mengawinkan anak-anakperempuan kami dengan bekas budak-budak
kami.maka Allah azza wa jalla menurunkan ayat ini.[5]
4. AsbabunNuzul
a.
Ayat 12
Dari ibnu juraij bahwa ayat ini
turun berkenaan dengan Salman Al-Farisi yang bila selesai makan, suka terus
tidur dan mendengkur. Pada waktu itu ada orang yang mempergunjingkan
perbuatannya, maka turunlah ayat ini yang melarang seoorang mengumpat dan
menceritakan keaiban orang lai (HR.Ibnuu Al-Mundzir)
b.
Ayat 13
Dari Ibnu Abi Malaikah bahwa
penaklukan kota Mekkah, Bilal naik keatas ka’bah uuntuk mengumandangkan azan.
Beberapa orang berkata, “apakah pantas buudak hitam ini azan diiatas ka’bah?”.
Maka yang lain berkata, “sekiiranya Allah membenci orang ini pasti dia akan
menggantikannya.”.ayat ini turun sebagai penegasan bahwa dalam islam tidak ada
diskriminasi yang paliing muliia adalahh yang paliing bertakwa.(H.R.Ibnu Abi
Hatim)
5. Tafsir al-Ayat
a. Tafsir Ayat 10[6]
$yJ¯RÎ)tbqãZÏB÷sßJø9$#×ouq÷zÎ)
“Sesunguhnya orang mukmin itu
bersaudara”.
Menurut sebuah hadits ; orang islam
yang satu adalah saudara orang islam yang lain. Dia tidak boleh menganiayah atau
menghinah atau merendahkan atau saling mengunguli dengannya dalam membuat
gedung-gedung,sehingah dia menutupi angin terhadapnya kecuali dengan ijin Nya
atau menyakiti hatinya dengan tak sudi memberikan hasil pancinya kecuali
menciduk untuknya satu cidukan, dan jangan membeli buah-buahan tersebut menuju
anak-anak tetangga sedang anak itu tidak berbagi memakan buah-buahan tersebut
dengan kawan-kawanya.
Kemudian sabdanya pula ; peliharalah
oleh kalian namun hanya sedikit saja yang mau memilihara.
Sedangkan menurut hadits sahih yang
lain juga dikatakan apabila seorang muslim mendoakan saudaranya diluar
pengetahuan maka berdoa malaikat ; semoga doamu dikabulkan dan kamupun
mendapatkan yang seperti itu.
(#qßsÎ=ô¹r'sùtû÷üt/ö/ä3÷uqyzr&
“Karena itu damaikanlah diantara kedua saudaramu”
4(#qà)¨?$#ur©!$#
Dan bertaqwalah kamu kepada Allah dalam segala hal yang kamu
lakukan maupun yang kamu tingalkan yang diantarnya adalah memperbaiki hubungan
diantar sesama kamu yang kamu disuruh melaksanakannya.
÷/ä3ª=yès9tbqçHxqöè?
Mudah-mudahan Tuhanmu memberi rahmat kepadamu dan memaafkan
dosa-dosamu yang telah lalu apabila kamu mematuhi dia dan mengikuti perintah
dan larangan.
b. Tafsir Ayat 11-12.
Dalam ayat
ini Allah menjelaskan adab-adab (pekerti) yang harus berlaku diantara sesama
mukmin, dan juga menjelaskan beberapa fakta yang menambah kukuhnya persatuan
umat Islam, yaitu:
1)
Menjauhkan diri dari berburuk sangka kepada yang lain.
2)
Menahan diri dari memata-matai keaiban orang lain.
3)
Menahan diri dari mencela dan menggunjing orang lain.
Dan dalam ayat ini juga, Allah
menerangkan bahwa semua manusia dari satu keturunan, maka kita tidak selayaknya
menghina saudaranya sendiri. Dan Allah juga menjelaskan bahwa dengan Allah
menjadikan kita berbangsa-bangsa, bersuku-suku dan bergolong-golong tidak lain
adalah agar kita saling kenal dan saling menolong sesamanya. Karena ketaqwaan,
kesalehan dan kesempurnaan jiwa itulah bahan-bahan kelebihan seseorang atas
yang lain.
$pkr'¯»ttûïÏ%©!$#(#qãZtB#uäwöyó¡o×Pöqs%`ÏiBBQöqs%
“Kita tidak boleh saling menghina
terhadap sesama”
Ayat ini jadikan oleh Allah sebagai
peringatan dan nasehat agar kita bersopan santun dalam pergaulan hidup kaum
yang beriman. Dengan hal ini berarti Allah melarang kita untuk mengolok-olok
dan menghina orang lain, baik dengan cara membeberkan keaiban, dengan mengejek
ataupun menghina dengan ucapan / isyarat, karena hal ini dapat menimbulkan
kesalah-pahaman diantara kita.
#Ó|¤tãbr&(#qçRqä3t#ZöyzöNåk÷]ÏiB
Allah swt.melarang kita menghina
sesamanya karena boleh jadi orang yang dihina itu lebih baik dan lebih mulia
disisi Allah kedudukannya dari pada yang menghina.
wurÖä!$|¡ÎS`ÏiB>ä!$|¡ÎpS#Ó|¤tãbr&£`ä3t#Zöyz£`åk÷]ÏiB
Orang yang kerjanya hanya mencari
kesalahan dan kekhilafan orang lain, niscaya lupa akan kesalahan dan kekhilafan
yang ada pada dirinya sendiri. Sebagaimana dalam sabda Nabi saw. :
الكِبْرُ
بَطْرُالْحَقِّ وَغَمْصُ النَاسِ
“Kesombongan itu ialah menolak
kebenaran dan memandang rendah manusia”.
wur(#ÿrâÏJù=s?ö/ä3|¡àÿRr&
Dalam penggalan ayat ini Allah
melarang kita mencela orang lain karena mencela orang lain sama saja mencela
diri sendiri, karena orang-orang mukmin itu bagaikan satu badan. firman Allah swt.yang
menerangkan tentang balasan bagi orang yang suka mencela orang lain yaitu
:
×@÷urÈe@à6Ïj9;otyJèd>otyJ9
“Neraka wailun hanya buat orang yang
suka mencedera orang dan mencela orang”. (al-Humazah: 1)
Adapun dari arti هُمَزَةٍ yaitu mencedera, yakni memukul dengan tangan, sedangkan لُمَزَةٍ yaitu
mencela dengan mulut.[7]
wur(#rât/$uZs?É=»s)ø9F{$$Î/
Allah swt.melarang kita memanggil
orang lain dengan gelaran-gelaran yang mengandung ejekan-ejekan, karena hal ini
termasuk menjelekkan seseorang dengan sesuatu yang telah diperbuatnya.
Sedangkan orang yang dihina itu telah bertaubat, tapi jika gelaran (panggilan)
itu mengandung pujian dan tepat pemakaiannya, maka itu tidak di benci
sebagaimana gelar yang diberikan kepada Umar, yaitu:Al-Faruq.
}§ø©Î/ãLôew$#ä-qÝ¡àÿø9$#y÷èt/Ç`»yJM}$#
Allah melarang kita memanggil orang
dengan kata “fasik” setelah ia sebulan masuk Islam atau beriman.
Para ulama’ mengharamkan kita
memanggil seseorang dengan sebutan yang tidak di sukai.
`tBuröN©9ó=çGty7Í´¯»s9'ré'sùãNèdtbqçHÍ>»©à9$#
Ayat ini di turunkan mengenai
“Shafiyah binti Hisyam Ibn Akhtab”, Beliau datang mengadu kepada Rasul bahwa
isteri Rasul yang lain mengatakan kepadanya. Hai orang Yahudi, hai anak dari
orang Yahudi, mendengar itu, Rasul berkata: mengapa kamu tidak menjawab: Ayahku
Harun, pamanku Musa, sedangkan suamiku Muhammad. Dalam ayat ini diterangkan
bahwa orang yang sudah mengolok-olok bahkan menghina orang lain tapi tidak
bertaubat, maka mereka termasuk orang dzhalim.
$pkr'¯»ttûïÏ%©!$#(#qãZtB#uä(#qç7Ï^tGô_$##ZÏWx.z`ÏiBÇd`©à9$#
Dalam ayat ini Allah swt.melarang
bahkan mengharamkan kita purbasangka atau berfikiran negatif terhadap orang yang
secara lahiriyah tampak baik dan memegang amanat, atau kita tidak boleh
menfitnah seseorang, karena menfitnah itu bukan saja menyakiti seseorang dari
lahirnya saja tapi juga menyakiti bathinnya.[8]
cÎ)uÙ÷èt/Çd`©à9$#ÒOøOÎ)
Allah melarang kita berburuk sangka
terhadap orang lain karena sebagian dari buruk sangka itu dosa.
Prasangka adalah dosa, karena
prasangka adalah tuduhan yang tidak beralasan dan bisa memutuskan silaturahmi
di antara dua orang yang baik.
wur(#qÝ¡¡¡pgrB
Allah melarang kita mencari-cari keaiban dan menyelidiki
rahasia seseorang, tapi jika kita memata-matai seseorang atau musuh agar tidak
terjadi kejahatan, maka itu di perbolehkan.
wur=tGøótNä3àÒ÷è/$³Ò÷èt/
Allah melarang mencela orang di
belakangnya atau menggunjing tentang sesuatu yang tidak di sukainya.
Menurut para ulama’, mencela yang
dibenarkan adalah jika bertujuan untuk :
a. Untuk mencari keadilan,
b. Untuk menghilangkan kemungkaran,
c. Untuk meminta fatwa atau mencari kebenaran,
d. Untuk mencegah manusia berbuat salah,
e. Untuk membeberkan orang yang tidak malu-malu
melakukan kemaksiatan.
=Ïtär&óOà2ßtnr&br&@à2ù'tzNóss9ÏmÅzr&$\GøtBçnqßJçF÷dÌs3sù
Allah melarang kita membicarakan
keburukan seseorang, karena hal itu sama halnya dengan makan bangkai saudaranya
yang busuk. Allah melarang hal ini karena perbuatan ini merupakan penghancuran
pribadi terhadap saudara yangdicela itu.
(#qà)¨?$#ur©!$#4¨bÎ)©!$#Ò>#§qs?×LìÏm§ÇÊËÈ
Dalam ayat ini Allah menyuruh kita
bertaubat dari kesalahan yang telah kita perbuat dengan di sertai penyesalan
dan bertaubat (taubat an-nasukha).Dalam ayat ini Allah juga
memberitahukan bahwasanya Allah senantiasa membuka pintu kasih sayangnya,
membuka pintu selebar-lebarnya dan menerima kedatangan para hambanya yang ingin
bertaubat supaya menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt.
c.
Tafsir surah al-Hujurat ayat13
Hai manusia sesungguhnya kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan,yakniAdam
dan Hawa atau dari sperma dan ovum,serta menjadikan kamu berbangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling mengenal yang mengantar kamu untuk bantu-membantu serta saling
melengkapi,sesungguhnya yang paling mulia
diantara kamu ialah yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha
mengenal sehingga tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya,walau detak-detik
jantung dan niat seseorang.
Penggalan
pertama ayat di atas sesungguhnya kami
menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan adalah pengantar untuk
menegaskan bahwa kita semua umat manusia derajat kemanusiannya sama disisi
Allah,tidak ada perbedaan nilai laki-laki dan perempuan. Pengantar tersebut
mengantar pada kesimpulan yang disebut oleh penggalan terakhir ayat ini yaitu
“sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah yang paling
bertakwa.”Karena itu berusahalah untuk meningkatkan ketakwaan agar menjadi yang
termulia di sisi Allah.
Kata Syu’ub
adalah bentuk jamak dari kata sya’b.kata ini digunakan untuk menunjukkan
kumpulan kata dari sekian qabillah yang biasa diterjemahkan suku yang merujuk
pada satu kakek.
Kata
ta’aruf terambil dari kata arafah yang berarti mengenal.Kata yang digunakan
ayat ini mengandung makna timbal balik. Dengan demikian ia berarti saling
mengenal.
Kata akramakum terambil dari kata karuma yang
pada dasarnya berarti yang baik dan istemewa sesuai objeknya.manusia yang baik
dan istimewa adalah yang memiliki akhlak baik terhadap allah dan mahluknya.
Penutup
ayat di atas inna allah alim(un) khabir/sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi
maha mengenal,yakni menggabung dua sifat allah yang bermakna mirip itu,hanya di
temukan tiga dalam Al-Quran.[9]
2. Surat
Ar Ra’d:11
¼çms9×M»t7Ée)yèãB.`ÏiBÈû÷üt/Ïm÷ytô`ÏBur¾ÏmÏÿù=yz¼çmtRqÝàxÿøtsô`ÏBÌøBr&«!$#3cÎ)©!$#wçÉitóã$tBBQöqs)Î/4Ó®Lym(#rçÉitóã$tBöNÍkŦàÿRr'Î/3!#sÎ)ury#ur&ª!$#5Qöqs)Î/#[äþqßxsù¨ttB¼çms94$tBurOßgs9`ÏiB¾ÏmÏRrß`ÏB@A#urÇÊÊÈ
Artinya : “11. Bagi manusia
ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di
belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah
tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang
ada pada diri mereka sendiri.dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap
sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung
bagi mereka selain Dia.”(Q.S. ar-Ra’d : 11)
a.
Arti Kata Mufradat
Menjaganya
: يَحْفَظُوْنَهُ
ô`ÏBÌøBr&«!$#3 :hallA hatnirep satA
.`ÏiBÈû÷üt/Ïm÷ytô`ÏBur¾ÏmÏÿù=yz di hadapanya dan di belakangnya
:
b.
Tafsir Surah Ar-Rad Ayat
11
Dalam ayat ini Allah menjelaskan
bahwa masing masing ada bagian yang
mengikutinya yakni malaikat-malaikat atau mahlukyang selalu mengikutinya secara bergiliran,di
hadapanya juga di belakangnya mereka yakni malaikat itu,menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu
kaum dari positif ke negatif atau
sebaliknyasehingga mereka mengubah apa
yang ada pada dirinya. Dan apabila
allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum,tetapi ingat bahwa Dia
menghendakinya, kecuali jika manusia mengubah sikapnya terlebih dahulu. Jika
Allah menghendakim keburukan terhadap suatu kaum maka terjadilah
ketentuan-Nyayang berdasar sunnatullah atau hukum-hukum kemasyarakatan yang
ditetapkan-Nya. Bila itu terjadi,maka tak
ada yang dapat menolaknya dan pastilah sunnatullah menimpanya:dan sekali-kali taka da pelindung bagi
mereka yang jatuh atasnya ketentuan tersebut selain Dia.[10]
4. Surah An-Nisaa’ : 1
$pkr'¯»tâ¨$¨Z9$#(#qà)®?$#ãNä3/uÏ%©!$#/ä3s)n=s{`ÏiB<§øÿ¯R;oyÏnºurt,n=yzur$pk÷]ÏB$ygy_÷ry£]t/ur$uKåk÷]ÏBZw%y`Í#ZÏWx.[ä!$|¡ÎSur4(#qà)¨?$#ur©!$#Ï%©!$#tbqä9uä!$|¡s?¾ÏmÎ/tP%tnöF{$#ur4¨bÎ)©!$#tb%x.öNä3øn=tæ$Y6Ï%uÇÊÈ
Artinya : “Hai
sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari
diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada
keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan
bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling
meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya
Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”
a.
Arki Kata Mufradat
النَّاسُ : manusia لاَرْحَمَ : kasih sayang
رَقِيْبًا : pengawas بهِ
تَسَاءَلٌوْن : saling
meminta satu sama lain
b.
Makna Ijmali
Wahai
umat manusia,bertakwalah kalian kepada tuhan kamu yang menciptakan kamu dari
adam: yang memelihara kamu dan yang meliputi kamu dengan kemurahnan dan
kedermawanan-Nya.ingatlah oleh kamu,bahwa dia telah menciptakan kamu dari satu
jiwa (nabi adam),kemudian menjadikan kamu sebagai suatu jenis mahluk (yaitu
manusia) yang kemaslahatan kemaslahatanya bias ditegakkan atas dasar saling
menolong dan saling membantu,serta memelihara satu sama lain dalam hal
kebenaran.
Bertakwalah kalian kepada allah
yang kalian agungkan,dan kalian saling meminta antar sesama dengan memakai asma
dan hak-Nya atas hamba-hambaNya,disamping dengan kekuasaan dan pengaruh yang
dimiliki-Nya.ingatlah baik-baik hak-hak silaturahmi atas kalian,jangan sampai
kalian menyia-nyiakannya sebab apabila kalian berbuat demikian kalian telah
merusak hubungan kekeluargaan dan persaudaraan.
Oleh karena itu,kalian harus
tetap memelihara kedua pengikat tersebut yaitu ikatan iman dan silaturahmi yang
kuat .sesungguhnya allah selalu mengawasi kalian.[11]
c.
Tafsir Surah An-Nisa Ayat 1
“Hai
sekalian manusia bertakwalah kamu kepada Tuhanmu,yang telah menjadikan kamu
dari satu diri seruan Tuhan pada ayat ini tertuju kepada sekalian manusia tidak
pandang negeri atau benua, bangsa atau warna kulit. Di peringatkan disini dua
hal yaitu yang pertama supaya takwa kepada Allah swt.,kedua supaya
mengerti,bahwa sekalian manusia ini,di bagian bumi manapun mereka
tinggal,mereka adalah satu belaka.tegasnya,allah adalah satu dan kemanusiaanpun
satu!
“Dan
dari padanya dijadikan-Nya isterinya”Yaitu dari diri yang satu itu jugalah di
timbulkannya pasangannya,isterinya.
Baik
juga kita ketahui bahwasanya tafsir yang umum sejak dulu,ialah bahwa yang
dimaksud jiwa yang satu ialah Adam,yang dari padanya isteri adam yang bernama
Hawa.Ibnu Syaibah dan Abd. Bin Humaid,Ibnu Jarir,Ibnu Mundzir,danIbnu Hatim menjelaskan,bahwa
mujahid memang menafsirkan bahwa jodohnya dijadikan dari padanya itu ialah
hawa,yaitu dari tulang rusuk sebelah kiri yang paling bawah sekali dari Adam.
“Dia
telah menjadikanmu dari satu diri”
Ialah
bahwa seluruh manusia itu baik laki-laki ataupun perempuan dimanapun mereka tinggal
dan berada mereka adalah diri yang satu.kemudian setelah itu agar senantiasa
terpelihara satu kesatuan diantara mereka maka datanglah lanjutan firman
“Bertakwalah kamu kepada Allah yang kamu telah bertanya-tanya tentang( nama)Nya
dan( peliharalah) keluargamu.
Ayat
ini telah memberi kesadaranpada manusia,bahwasetelah akal manusia tumbuh dan
mereka telah hidup bermasyarakat hendaklah kita selalu ingat kepada allah dan
senantiasa bertakwa kepadaNya bukan senantiasa ingkar kepadanya.
Setelah
diperintahkan bertakwa selanjutnya ada yang menjadi pertanyaan sehari-hari
tentang kata Arham,Arham adalah jamak dari kata Rahim,yang berarti kasih saying,kemudian disebut dalam keluarga
bertalih darah. Tuhan telah mewahyukan kalimat arham untuk mengingatkan kita
agar senantiasa sadar akan kesatuan tali keturunan manusia.sedangkan peranakan
ibu mengandung anaknya disebut juga Rahim ibu,karena seorang ibu mengandung
dalam keadaan kasih-sayang.
Ayat
ini telah memperingatkan lagi bahwa dua hal selalu menjadi buah pertanyaan
timbal balik antara manusia.pertama Allah, kedua hubungan keluarga.maka kepada
allah hendak kamu bertakwa dan kepada keluargakarena sama keturunan darah
manusia dari yang satu,hendaklah kamu berkasih-sayang.
Dengan
merenungkan ayat ini dapatlahnkita memahami dasar damai perikemanusiaan dalam
ajaran islam,apabila segenap manusia yang dating dari dari saatu keturunan itu
telah sama-sama bertakwa kepada Allah,dengan sendirnya timbullah keamanan jiwa.
Apa lagi setelah mereka sadari bahwa mereka itu adalah keluarga besar yang di
perlihatkan oleh satu aliran darah dan aliran kasih.
“Sesungguhnya
Allah Pengaawas atas kamu”(ujung ayat 1)
Dengan
demikian dapatlah difahamkan ,meskipun warna kulit berlainan,tempat tinggalpun
berbeda tapi ingatlah kamu dipertemukan oleh akal budi.Dan satu pula yang
menjadi pengawasmu siang dan malam yaitu Allah.[12]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Istilah masyarakat menurut Al’Qur’an dapat dilihat dari
adanya berbagai istilah lain yang dapat dihubungkan dengan konsep pembinaan masyarakat,seperti istilah ummat, qaum, dan lain sebagainya.Selanjutnya
dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur’an, masyarakat diartikan sebagai semua
kelompok yang dihimpun oleh persamaan agama.
2.
Menjadi masyarakat yang baik menurut Al-quran antara lain
dengan:
a. menjauhkan diri dari mengolok-olok
dan merendahkan orang lain.
b.
menjauhkan diri dari memanggil seseorang dengan gelar-gelar
atau sebutan yang buruk.
c. menjauhakan
diri dari berburuk sangka kepada yang lain.
d.
menjauhkan diri dari mematai-
matai keaiban orang lain.
e. menahan
diri dari mencela dan menggunjing orang lain.
f. senantiasa
memelihara hubungan silaturahim kepada sesama.
3.tujuan
dan manfaat masyarakat menurut Al-qur’an antara lain:
a.agar
senantiasa bertakwa kepada Allah.
b. agar
saling mengenal satu sama lain.
c. untuk
mencegah permusuhan diantara sesama.
d.untuk
menciptakan kedamaian,persatuan dan kesatuan dalam
kehidupan.
DAFTAR PUSTAKA
Al-
Maraghi, Ahmad Mustofa.1988. Terjemah tafsir al-Maraghi, juz IVSemarang:Toha putra
Al-Maraghi,Ahmad
Mustofa.1989.Terjemah tafsir
al-Maraghi,juz XXVI.
Semarang: Toha putra
HAMKA.1983.Tafsir al-Azhar juz IV.Jakarta:Pustaka
Panjimas
Shihab,
M. Quraish.2002. Tafsir al Mishbah. Jakarta: Lentera Hati.
http://kampungtafsir.blogspot.co.id/2008/03-konsep-umat-dalam-islam.html
(diunduh hari
Jumat,01/04/2016;15:37 WIB)
[1]http://kampungtafsir.blogspot.co.id/2008/03-konsep-umat-dalam-islam.html(diunduh
hari jumat,01/04/2016:15:37 WIB)
[2]Ahmad Mushtafa
Al-Maraghy,Tafsir Al-Maraghy Juz 26,(Semarang
Toha Putra,1986),h.219
[3]Ibid.h.219
[4]Ibid.h.224
[5]Ibid.h.238
[6]Ahmad Mushtafa Al-Maraghy,Tafsir
Al-Maraghy Juz 26,(Semarang Toha Putra,1986),h.221-222
[7]HAMKA, Tafsir al-Azhar,(Jakarta:Pustaka Panjimas,1983), h.
236
[8] Ahmad Mushtafa Al-Maraghy,Tafsir Al-Maraghy Juz 26,(Semarang Toha
Putra,1986),h.230
[9] M.Quraish Shihab,Tafsir
Al-Misbah,(Jakarta:Lentera Hati,2002)h.615-619
[10] M.Quraish Shihab,Tafsir
Al-Misbah,(Jakarta:Lentera Hati,2002)h.228
[11] Ahmad Mushtafa
Al-Maraghy,Tafsir Al-Maraghy Juz IV,(Semarang Toha Putra,1986),h.315
Tidak ada komentar:
Posting Komentar